Air

Deras dan perlahan
Jernih dan keruh
Berteman secangkir kopi
Aliran air asyik aku hayati
Dari setitis menjadi setompok
Setompok bergerak menjadi arus
Mengalir terus, dan menerus

Dari hulu tekad mengalir
Tak berpatah, tak memudik ke hilir
Betapa jauh kembaramu air
Sunnah arah, tidak sekali kau mungkir

Dalam derasmu membaja nyawa
Jua derasmu mampu membinasa

Dalam keruhmu membersih alam
Jua keruhmu tersimpan keindahan

Detik waktu tiada kusedar
Lagu arus bagai memukau
Asyiknya air mengalir sabar
Terhalang batu, kayu segala
Magisnya tiada pernah pudar

Jika aku diberi pilihan
Ingin ku jadi setitis air
Dari bukit-bukau gunung-ganang
Mengalir bersama teman-teman
Menuju matlamat luas lautan
Ingin ku terbang ke awan sana
Menjadi kabus meneduh dunia
Menjadi hujan rahmat gembira
Menyuburkan tanah kering derita
Ingin jatuh dari kelopak mata
Mengusap pipi para hamba
Saban menangis merindui Pencipta
Setiap zarah membawa bakti
Setiap zarah menyambung nadi

Merenung air asyik sekali
Ketika aku terpaku sendiri
Hanya berteman secangkir kopi
Dari mata dan telinga
Dari minda dan hati
Berteman secangkir kopi
Dengan tarian jari-jemari
Kubingkiskan puisi ini
Buat teman-teman yang sudi
Sudikanlah untuk mengerti





-Taman Tasik Permaisuri
-Aku, kopi, dan Blackberry


Sent from my BlackBerry®.

Related Posts by Categories



0 comments:

Post a Comment

Find us on Google+